Seorang yang berkeinginan menjadi pemangku, haruslah mempunyai niat mengabdi kepada umat dan Ida Sang Hyang Widhi. Selain itu, juga harus punya bekal ilmu pengetahuan dalam yadnya dan dasar-dasar pelayanan kepada umat.  Lalu bagaimana menyikapi jika seseorang sudah mawinten pemangku walau belum punya dasar pengetahuannya?

Ida Pandita Mpu Yogiswara mengatakan, menjadi seorang pemangku adalah sebuah perubahan status seseorang dari welaka. Dalam perubahan status ini, sering diikuti penggunaan kata Jro di depan kata Mangku. Jro sendiri tidak hanya sering dipakai oleh Jro Mangku, namun juga akrab dipakai untuk seorang perempuan yang menikah dengan kasta yang dinilai lebih tinggi, yang familiar di telinga dengan sapaan Bu Jro.

Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan, kata Jro adalah sebuah bentuk penyucian diri ke dalam hati. Dengan menyandang nama Jro, seorang seharusnya sudah mulai bisa mengendalikan diri. “Pengunaan Jro pada Mangku dan untuk yang menikah kemudian naik kasta itu beda, karena yang menikah itu penggunaan Jro lebih ke status trah baru yang disandangnya,” ujarnya.

Ditegaskannya, sejatinya manusia sama, mau dari kasta apa saja. Namun, seorang perempuan menyandang nama Jro setelah menikah sebaiknya memang lebih harus mengendalikan diri, sehingga menghasilkan vibrasi positif ke orang di sekitarnya. "Jangan sampai menyandang nama Jro itu hanya sebuah simbol belaka,” paparnya.

Mengenai adanya kesan tren ikut pawintenan pemangku. menurutnya seorang harus minimal sebaiknya sudah mengikuti pawintenan Saraswati, jika ingin jadi pemangku. Ida Pandita Mpu Yogiswara berpendapat bahwa tingkatan pawintenan ini seperti halnya masuk sekolah. Dari kelas TK, kemudian kelas 1 SD, dan seterusnya, sehingga dasar-dasar kepemangkuan sudah diketahui. “Sebaiknya kan seperti itu, seorang mau pemangku setelah ikut pawintenan saraswati dia belajar melayani umat, sehingga saat hendak ikut pawintenan kepemangkuan dia sudah mengerti,” paparnya.

Lebih lanjut, hal itu juga sama dengan yang ikut pawintenan Dasa Guna. Seperti mangku dalang, mangku pamong-mong, mangku pinandita, mangku balian atau usadha, dan lainnya harus sudah punya dasar tentang ilmu kepemangkuannya. “Bagaimana jika seseorang yang belum tahu, apa ingin ikut pawintenan pemangku atau dasa guna juga. Kalau bagi nak lingsir sendiri, jika ada yang datang seperti itu, maka nak lingsir tanya dulu alasannya,” ucap Ida Pandita Mpu Yogiswara.

Hal ini dilakukan, lanjutnya, agar nak lingsir tidak langung menjegal langkah mereka, karena menolak keinginannya untuk ikut pawintenan.

Mengikuti pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna bagi Ida Pandita Mpu Yogiswara, seperti mendirikan palinggih pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seorang mendirikan palinggih akan menempatkan daksina lingga di palinggihnya. “Apa setelah itu kita yakin Sang Hyang Widhi berstana di sana? Kita akan tahu jika kita rajin sembahyang karena dari sana ada vibrasi dari palinggih. Coba palinggih yang tidak pernah ada persembahan dan sembahyang, pasti tidak akan merasakan vibrasi dari palinggih tersebut,” bebernya.

Begitu juga dengan yang ikut pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna. Jika setelah mawinten mereka tidak mengisi waktu belajar ataupun sembahyang untuk mendapat pawisik (wahyu), maka tidak aka mengahasilkan sebuah vibrasi. “Tentu tidak akan ada vibrasi positif ke sekitarnya dan membuat kecewa umat,” tutur pemilik nama welaka Wayan Mariadana ini.

Ida Pandita Mpu Yogiswara mengaku, setiap pelaksanaan pawintenan kepemangkuan ataupun Dasa Guna memberi wejangan kepada yang ikut pawintenan. Dia pun mengajak yang mengikuti pawintenan tersebut belajar bersama seminggu sekali. Dimana nantinya bisa mengutarakan keluh kesah setelah pawintenan dan sekaligus rembug bersama. “Belajar itu tidak salah, menjadi pintar itu tidak menyebabkan sengsara, kecuali menjadi pintar untuk membodohi orang,” tegasnya.

Selain itu ia pun juga bicara di depan penyaksi saat pawintenan untuk yang akan jadi pemangku. Dirinya selalu menekankan jangan sampai status mangku hanya sebuah dekorasi. “Konsekuensi memang tidak ada, namun seperti nak lingsir bilang tadi layaknya palinggih yang jarang disembahyangi, maka pemangku yang tidak belajar juga tidak akan memberikan vibrasi ke umat. Ingat umat sekarang sudah sangat jeli,” terang bungsu dari 13 bersaudara.

Mengenai pantangan sebelum mengikuti pawintenan, baik saraswati, kepemangkuan maupun Dasa Guna tidak ada. Namun, jika bisa ia pun menganjurkan agar sebelum ikut pawintenan melakukan puasa sebagai bentuk pengendalian diri. Puasa ini bagi Ida Pandita Mpu Yogiswara bisa memberikan kemudahan bagi orang yang ikut mawinten untuk belajar. “Tidak dipaksa ya, jika memang tidak kuat puasa. Misalnya karena punya maag, kan takutnya malah jatuh sakit,” sarannya.

Berkaitan dengan pawintenan ini, Koperasi Mas Amerta bersama Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, melaksanakan pawintenan massal Saraswati, Kepemangkuan, dan Dasa Guna, untuk meringankan biaya umat yang akan dilaksanakan di Pura Griya Perak, Desa Pemogan, Denpasar Selatan saat  Purnama Kapat, Redite Umanis Menail, 13 Oktober 2019,  Pukul 17.00 Wita.  Bagi yang berminat bisa koordinasi dengan pigak Koperasi Mas Amerta dan  Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan.

Setelah seseorang mawinten, Ida Pandita Mpu Yogiswara mengibaratkan sama seperti macaru, dimana untuk menetralisasi hal negatif di pekarangan harus ada unsur Bhuana Agung dan Alit yang terlibat. Selain itu, pekarangan sudah memenuhi asta kosala kosalinya. Jika tidak lengkap, maka macaru tidak bisa sukses hasilnya.

“Begitu juga dengan yang ikut mawinten, setelahnya harus belajar dan memperbaiki diri. Jika tidak, mau 100 ribu kali pun ikut mawinten akan sia-sia saja,” pungkas Ida Pandita Mpu Yogiswara. 

Mawinten adalah penyucian diri untuk meningkatkan kualitas diri. Dengan Mawinten berarti mengubah status kehidupan menuju lebih fokus pada masalah kesucian, keagamaan, dan spiritual. Lantas, siapa saja yang bisa mengikuti pawintenan ini?

Mewinten adalah salah satu jenis dari upacara manusa yadnya. Belakangan umat semakin menyadari bahwa Mawinten itu penting bila ingin belajar pengetahuan agama maupun masalah lainnya. Mengikuti pawintenan berarti ingin lebih meningkatakan diri dalam pengabdian kepada umat maupun Sang Hyang Widhi Wasa.

Pawintenan sejak kecil sejatinya dilakukan. Seseorang ketika bersekolah ada pawintenan yang dinamai upanayana. Pawintenan yang diakukan jika anak mulai akan menimba ilmu ini, sebagai pertanda  sudah mulai bisa belajar. Selain itu, ada pawintenan Saraswati untuk tingkat lanjutan agar bisa menerima ilmu pengetahuan dari Sang Hyang Aji Saraswati.

Menurut Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Pemogan, Denpasar Selatan, dengan mengikuti pawintenan Saraswati, maka seseorang bisa mempelajari pengetahuan yang lebih. Tidak hanya itu, orang yang sudah mawinten Saraswati bisa melakukan yadnya paling sederhana, seperti mengahaturkan canang dan bisa belajar yadnya-yadnya dasar lainnya yang ingin diketahui.
Selanjutnya ada pawintenan kepemangkuan, yakni  pawintenan yang dilakukan oleh seseorang yang ingin jadi pemangku yang selanjutnya  bisa ngayah di sebuah pura.

“Tidak terbatas pada pura besar saja ya, bahkan dalam sebuah pura keluarga (merajan) juga bisa ada pemangkunya,” ujar Ida Pandita Mpu Yogiswara saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Jalan Dangin Uma, Banjar Jaba, Kepaon, Pemogan,  Denpasar Selatan, kemarin. 

“Menurut opini saya, sebuah Sanggah Kemulan juga perlu mempunyai pemangku. Bisa dipilih dari anggota keluarga yang dituakan,” imbuhnya.

Tujuan adanya pemangku di kemulan, menurut pria kelahiran tahun 1975 ini, agar bisa memimpin persembahyangan di keluarga. "Selain itu, Kemulan adalah sejatinya yang paling utama untuk tempat kita sebagai umat Hindu bersembahyang. Dikatakannya,  Kemulan itu luar biasa, dari mantra 'Om Dewa Dewa Tri Dewanam, Tri Murti Tri Lingganam, Tri Purusa  Suddha Nityam, Sarwa Jagat Jiwatnam'. Artinya, Om, Para Dewa utamanya tiga dewa (Brahma, Wisnu, Siwa) adalah tiga wujud, Tri Purusa yang suci selalu, adalah roh (atman) semesta dan isinya. 

"Nah di sini kita tahu bahwa di Kemulan itu semua Dewa, terutama Tri Murti ada. Jadi sangat utama sekali Kemulan itu,” terangnya.

Lebih lanjut Ida Pandita Mpu Yogiswara menerangkan tentang mantra 'Om Guru Dewam, Guru Rupam, Guru Madyam, Guru Purwam, Guru Paramtama Dewam, Guru Dewa Suddha Nityam', yang memiliki arti : Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (Nyata), Guru Madya (Sekala Niskala),Guru Parwa (Guru Niskala) adalah guru para Dewa, Dewa Guru suci selalu.
Dari mantra yang digunakan di Kemulan ini, Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan bahwa umat ketika sembahyang di Kemulan akan mendapat tuntunan juga. "Hal inilah yang menyebabkan walau seseorang hanya mawinten kepemangkuan untuk jadi pemangku di merajan sangat utama," urainya

Selain dua mantra yang disebutkan, Ida Pandita Mpu Yogiswara juga menambahkan tentang mantra 'Om, Brahma, Wisnu, Iswara Dewam, Jiwatmanam Trilokanam, Sarwa Jagat Pratistanam, Suddha Klesa Winasanam, Om Guru Paduka Dipata Ya Namah'. Matra tersebut memiliki arti : Om Hyang Widhi, bergelar Brahma, Wisnu, Iswara yang berkenan menjiwai Triloka, semoga seluruh jagat tersucikan, bersih dan segala noda terhapuskan oleh Mu, Om Hyang Widhi selaku Bapak Alam, hamba memujamu.

Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan bahwa mantra ini erat hubungan dengan uttpti, stiti, dan pralina. Dijelaskannya, Kemulan menjadi representasi kelahiran, hidup dan matinya manusia. Manusia dari lahir melakukan berbagai upacara dari Tutug Kambuhan, Nganten (menikah) di Kemulan, dan akhirnya setelah diaben juga dilinggihkan di. Kemulan.

“Menjadi pemangku di Kemulan sangat istimewa. Jangan dianggap remeh, karena sembahyang di Kemulan sangatlah utama bagi umat,” tegasnya.

Menjadi pemangku, lanjut  Pandita yang dikaruniai satu anak ini, adalah sebuah pengabdian. Niat menjadi pemangku harus karena ingin melayani umat ataupun membantu sulinggih. Tidak hanya itu, seorang pemangku menurut pria yang merupakan bungsu dari 13 bersaudara ini, tidak hanya bisa nganteb saja, tetapi juga harus bisa dharma wacana.

“Jika ingin ikut beryadnya dalam artian lebih daripada orang biasa, maka boleh ikut pawintenan kepemangkuan,” terangnya.

Ida Pandita Mpu Yogiswara memaparkan, jika memang ingin jadi pemangku dan memakai atribut pemangku, seseorang harus  beranggung jawab atas apa yang ia gunakan. “Seorang pemangku tidak ngaturan canang sama nganteb, tetapi bisa bermantra dengan baik, minimal Tri Sandya. Selain itu, juga harus bisa dharma wacana,” beber pria yang malinggih 6 Agustus 2017 ini.

“Saya selalu berikan pengarahan pada orang yang ingin ikut pawintenan. Saya pun juga memberikan opsi untuk belajar bersama. Misalnya seminggu sekali ketemu di pura membahas apa yang kurang, dan yang ingin ditanyakan dan  kendala lain yang dihadapi,” tambahnya.

Menjadi seorang wiku atau sulinggih, memang tak mesti berasal dari latar pendidikan keagamaan. Bahkan, ada sulinggih yang mantan narapidana, pebisnis, dan wartawan. Seperti halnya kisah perjalanan hidup Ida Pandita Mpu Yogiswara yang seniman.

Menjalani kehidupan sebagai seorang wiku tidaklah semudah yang dibayangkan. Ketekunan, ketulusan dan rasa tanggung jawab yang tinggi, membuat seorang sulinggih harus mengikuti etika dan tata laksana kesulinggihan. Diakui Ida Pandita Mpu Yogiswara, masa transisi dari dunia seni menuju ke dunia kesulinggihan tidaklah mudah. Baginya, keputusan untuk menuju dunia pelayanan merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus dibawa hingga tiada. "Bagi saya keputusan untuk menyanggupi tuntunan nabe Madiksa merupakan tantangan berat, karena beban tanggung jawabnya besar. Saya butuh waktu lima tahun untuk menyanggupi malinggih," ujar  Ida Pandita Mpu Yogiswara kepada  Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar.

Dijelaskannya, tahun 2003 Sang Nabe, Ida Pandita Mpu Prama Yogiswara dari Griya Manik Mas Tabanan, menuntun dan mendorongnya agar malinggih menjadi seorang sulinggih. "Banyak alasan kenapa waktu itu saya ragu. Dari segi finansial saya akui sangat kurang. Orang tua saya hanya seorang petani, pekerjaan saya hanya  seniman tato. Lalu, anak saya juga masih bersekolah ketika itu. Saya ragu jika harus melepaskan seluruh tanggung jawab saya sebagai orang tua, sebagai suami dan sebagai seorang anak," jelasnya.

Ida Pandita Mpu Yogiswara mengakui sebelum Madiksa banyak kejadian niskala yang terjadi dalam kehidupannya. "Dahulu sebelum malinggih, saya sempat mengalami kecelakaan berkali kali. Puncaknya pada 2004 keluarga besar mengadakan upacara pembersihan besar di rumah. Mulai dari Macaru dan Ngenteg Linggih. Waktu itu kondisi saya tidak bisa bergerak karena kaki dan tangan patah," ujarnya.

Baginya saat itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia tak bisa melakukan apapun, bahkan bekerja untuk menafkahi anak pun tak bisa ia lakukan karena tubuhnya harus digift. Menariknya, seminggu sebelum upacara Ngenteg Linggih berlangsung, ia melihat seorang sulinggih perempuan melakukan Surya Sewana di merajannya. "Aneh, saya tidak mengenal ia siapa. Tapi setiap pagi saya melihat sulinggih perempuan itu melakukan Surya Sewana di sana. Sampai pada hari ketika pelaksanaan Ngenteg Linggih saya menghaturkan Siwa Pekrana di merajan. Tapi hal itu tetap terjadi," ujarnya.

Usai pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih, penglihatan niskala itu masih saja terus terjadi. "Semakin lama saya semakin gelisah, dengan semua masalah keluarga dan kecelakaan yang saya alami. Di tahun 2008 akhirnya saya mulai belajar kepemangkuan. Dan, di 2013 nabe saya mendesak saya untuk malinggih. Hampir lima tahun saya menolak, tapi akhirnya tahun  2015 saya membulatkan tekad,  dan di tahun 2017 terlaksana juga prosesi Madiksa," terang pria yang pernah menjadi koordinator kepemangkuan dan sangging ini.

Uniknya, seusai Madiksa, sosok wanita berpakaian sulinggih itu tak pernah muncul kembali. " Sosok sulinggih wanita tidak pernah lagi saya lihat  melaksanakan Surya Sewana di merejan. Setelah diusut, ternyata dahulu leluhur kami ada yang malinggih juga, namun keturunannya tidak ada yang melanjutkan. Kebetulan karma saya mengikat saya dan malinggih sebagai seorang wiku," tegas mantan kordinator sangging Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi ini.

Keputusannya untuk malinggih didasari juga usainya tanggung jawabnya mengantarkan putranya hingga menamatkan pendidikan menjadi  sarjana. "Salah satu alasan saya iklas menjalani ini adalah tanggung jawab saya mengantarkan satu satunya putra saya ke jenjang sarjana. Artinya, satu tanggung jawab saya sudah terlaksana. Mengenai biaya saya pasrahkan pada yang kuasa," ungkap pria kelahiran 28 Oktober 1975.

Meski tak memiliki biaya untuk menggelar prosesi Madiksa, namun  diyakininya Tuhan memberikan jalan untuknya. "Mungkin memang sudah jalannya, Agustus 2017 akhirnya ada prosesi upacara besar, dan hasilnya bisa untuk menggelar prosesi Madiksa. Seperti itu Tuhan memberikan jalan," paparnya.

Ia berharap semua komitmen dan tanggung jawabnya akan dapat berguna bagi masyarakat. "Saya berharap saya bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat," tegasnya.


Biodata

Nama Walaka             : I Wayan Mariadana
Nama Sulinggih          :  Ida Pandita Mpu Yogiswara
Lahir                         : 28 Oktober 1975
Nama Istri                 : Ni Ketut Surasni
Nama Sulinggih          : Ida Pandita Mpu Prami Yogiswari
Nama Griya                : Griya Gede Manik Uma Jati, Jalan Dangin Uma, Banjar Jaba Jati, Kepaon, Denpasar.
Malinggih                   : 6 Agustus 2017

Upacara Warak Kruron bagi orang yang pernah Aborsi atau keguguran, jarang dijalankan karena tak banyak yang mengetahui. Di sisi lain, masih banyak yang malu  mengakui dirinya pernah Aborsi atau keguguran. Padahal, efeknya sangat buruk bagi kelangsungan hidup berumah tangga. Bila itu terjadi, ada solusi mudah dan murah. Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati telah melaksanakan upacara Warak Kruron Massal yang digelar di Pantai Matahari Terbit, Sanur, 13 April 2019 lalu.

 Griya Gede Manik Uma Jati

  Jl. Raya Pemogan Gg. Dangin Uma 2 No. 50, Kepaon-Denpasar

    628123941446 |    628123941446

    info@griyagedemanikumajati.org

© Yayasan Griya gede Manik Uma Jati Denpasar
logo-griya-gede-manik-uma-jati-web.png